Lusaka, Zambia — 15 Februari 2025 Sungai Kafue, salah satu sungai terpenting di Zambia, menghadapi krisis besar. Bendungan limbah tambang tembaga milik perusahaan Sino‑Metals Leach runtuh, tumpahan limbah beracun menyebar ke sungai, membuat ekosistemnya nyaris “mati dalam semalam”.
Kerusakan Alam yang Masif
Akibat limbah yang mencemari, kandungan yang sangat asam dan mengandung logam berat membuat ikan dan hewan air mati massal dan habitat sungai terganggu, air menjadi sangat tercemar, dan banyak tanaman di sekitar sungai ikut terpengaruh. Para ahli menyebut ini sebagai krisis lingkungan terbesar di Zambia dalam beberapa tahun terakhir.
Ancaman bagi Masyarakat
Sungai Kafue bukan hanya sumber air minum tetapi telah menopang jutaan orang. Sekitar 5 juta penduduk Lusaka dan ribuan warga kota lain kehilangan akses air bersih. Ribuan petani dan nelayan kehilangan mata pencaharian karena lahan dan tangkapan ikan terkontaminasi.
Selain itu, konsumsi air atau ikan yang tercemar meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang, termasuk paparan logam berat berbahaya.
Solusi Pemerintah Zambia ?
Pemerintah Zambia segera menaburkan kapur untuk menetralkan asam dan memulihkan kualitas air. Penyelidikan independen pun dilakukan untuk menentukan penyebab runtuhnya bendungan dan menuntut tanggung jawab perusahaan dan perlu strategi pemulihan jangka panjang bagi ekosistem dan masyarakat.
Peringatan Global
Insiden ini menjadi peringatan keras dunia: pengelolaan limbah tambang yang buruk bisa memicu krisis sosial-ekologis besar. Sungai Kafue yang menopang sebagian besar populasi Zambia menunjukkan bahwa lingkungan dan manusia sangat saling terkait—kerusakan satu berarti ancaman bagi yang lain.
Pemulihan sungai dan perlindungan masyarakat menjadi prioritas, sementara dunia belajar bahwa tanggung jawab industri tambang terhadap lingkungan tidak bisa diabaikan. (GN)
Sumber : hrw.org - zambia acid spill jeopardizes resident