Jakarta, 20 Februari 2025 – Indonesia menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan hutan nasional. Laporan pemantauan hutan oleh Kementerian kehutanan tahun 2024 menunjukkan bahwa deforestasi di Indonesia kembali meningkat pada 2024, dengan laju deforestasi netto mencapai ±175.400 hektare, meskipun pemerintah telah melakukan upaya reforestasi seluas ±40.800 hektare. Deforestasi bruto tercatat mencapai ±216.200 hektare, terutama di wilayah Kalimantan, Sumatera, dan Papua, yang menjadi habitat penting bagi satwa langka seperti orangutan, harimau Sumatera, dan gajah.
Konsekuensi Ekologis
Hilangnya tutupan hutan membawa konsekuensi ekologis yang luas. Fungsi ekosistem terganggu, keanekaragaman hayati menurun, dan perubahan iklim lokal serta risiko bencana alam seperti banjir dan erosi meningkat. Selain itu, masyarakat lokal, termasuk suku adat yang menggantungkan hidup pada hutan, menghadapi ancaman terhadap mata pencaharian dan ketersediaan sumber daya alam.
Indonesia kini memiliki ±95,5 juta hektare hutan atau sekitar 51,1 % dari total daratan, dengan 91,9 % berada dalam kawasan hutan resmi. Meski angka ini terbilang besar, laju deforestasi netto menunjukkan bahwa hutan Indonesia masih terus berkurang setiap tahunnya. Mayoritas deforestasi bruto terjadi di hutan sekunder, dan sekitar 69 % berlangsung di kawasan hutan resmi.
Pemulihan Fungsi Ekologis
Melalui program restorasi hutan, perhutanan sosial, dan pengawasan industri, penegakan hukum terhadap penebangan liar dan konversi hutan ilegal menjadi prioritas, sementara program reboisasi dan rehabilitasi ekosistem terus dilakukan di berbagai wilayah.
Beberapa perusahaan dan komunitas lokal juga aktif menanam pohon mangrove di pesisir dan melaksanakan penghijauan hutan gundul. Strategi ini diharapkan dapat memulihkan fungsi ekologis hutan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim.
Meskipun ada upaya nyata, tantangan tetap besar. Perizinan hutan yang kompleks, lemahnya pengawasan, dan tingginya permintaan global terhadap produk sawit, kayu, dan mineral membuat tekanan terhadap hutan Indonesia terus berlangsung. Maka, perlunya sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan hutan.
Indonesia masih kehilangan hutan lebih banyak daripada yang direhabilitasi, menandakan perlunya langkah lebih tegas dan inovatif. Isu ini bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga sosial dan ekonomi. Perlindungan hutan Indonesia membutuhkan komitmen nyata dari seluruh elemen masyarakat agar kekayaan alam dan keanekaragaman hayati tetap terjaga untuk generasi mendatang. (GN)
Sumber : Lestari Kompas