Banda Aceh, 30 November 2025 — Banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh setelah hujan ekstrem dipicu oleh Siklon Tropis Senyar di Samudra Hindia. Ribuan warga terdampak di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Timur, dan Aceh Besar. Selain faktor cuaca, para ahli menilai kerusakan hutan di wilayah hulu turut memperparah dampak bencana.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di beberapa titik di Aceh melampaui 150–200 milimeter dalam 24 jam. Intensitas hujan tinggi yang berlangsung berhari-hari menyebabkan sungai meluap dan lereng perbukitan runtuh.
Data sementara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan ribuan rumah terendam dan ratusan warga mengungsi ke posko darurat. Sejumlah akses jalan provinsi tertutup material longsor, sementara jembatan penghubung antar-desa dilaporkan hanyut terbawa arus.
Hutan Hulu yang Kian Terbuka
Di balik intensitas hujan ekstrem, persoalan lingkungan kembali menjadi sorotan. Akademisi kehutanan dari Universitas Syiah Kuala menyebut berkurangnya tutupan hutan di daerah aliran sungai (DAS) mempercepat limpasan air permukaan.
“Ketika hutan di hulu berkurang, tanah kehilangan daya serap. Air hujan tidak lagi tertahan oleh vegetasi dan langsung mengalir deras ke hilir,” ujar salah satu peneliti lingkungan kampus tersebut.
Aceh selama ini dikenal memiliki bentang hutan tropis yang luas, termasuk bagian dari Ekosistem Leuser. Namun, dalam satu dekade terakhir, pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, serta pembangunan infrastruktur disebut meningkatkan fragmentasi hutan. Kondisi ini membuat lereng lebih rentan longsor saat diguyur hujan intens.
“Tagihan Ekologis” yang Jatuh Tempo
Sejumlah pegiat lingkungan menyebut bencana ini sebagai bentuk “tagihan ekologis.” Deforestasi dan degradasi lahan di wilayah hulu DAS menyebabkan sedimentasi sungai meningkat. Akibatnya, kapasitas sungai menurun dan lebih mudah meluap saat hujan deras.
Selain itu, hilangnya vegetasi penyangga di sepanjang bantaran sungai memperparah erosi tebing. Lumpur dan material kayu yang terbawa arus mempercepat kerusakan permukiman warga.
Di Kabupaten Pidie, misalnya, banjir bandang membawa kayu gelondongan dari kawasan hulu yang menghantam rumah-rumah di dataran rendah. Warga menyebut aliran air datang sangat cepat dan tidak seperti banjir musiman sebelumnya.
Adaptasi dan Pemulihan
Pemerintah daerah bersama BNPB terus menyalurkan bantuan logistik, mendirikan hunian sementara, serta melakukan normalisasi sungai. Namun para ahli menegaskan, solusi jangka panjang tidak cukup hanya dengan tanggul dan pengerukan.
Rehabilitasi hutan di kawasan hulu, perlindungan kawasan lindung, serta penguatan tata ruang berbasis risiko bencana dinilai menjadi langkah mendesak. Restorasi lahan kritis dan penanaman kembali vegetasi lokal di sekitar DAS juga disebut penting untuk memulihkan fungsi ekologis.
Peristiwa banjir dan longsor Aceh pada November 2025 menjadi pengingat bahwa krisis iklim dan deforestasi saling berkaitan. Ketika hujan ekstrem datang, lanskap yang telah kehilangan penyangganya menjadi semakin rentan.
Bencana ini bukan hanya soal curah hujan tinggi, tetapi juga tentang bagaimana alam yang rusak mempercepat datangnya malapetaka.
Sumber : HAkA