Banda Aceh, 5 Desember 2025 – Di sejumlah kabupaten seperti Pidie, Aceh Timur, Aceh Tengah, dan Aceh Utara mengakhiri tahun dengan sisa lumpur masih menempel di dinding rumah warga. Bau tanah basah bercampur kayu lapuk menjadi penanda bahwa banjir dan longsor yang datang sejak akhir November belum sepenuhnya pergi.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat angka korban yang terus bertambah pada awal Desember. Pada 1 Desember, laporan awal menyebut 156 orang meninggal dunia. Hanya dalam hitungan hari, angka itu melonjak menjadi 305 korban meninggal dan 191 orang hilang. Di tingkat regional Sumatra, jumlah korban jiwa dilaporkan mendekati bahkan melampaui 900 orang berdasarkan kompilasi laporan regional beberapa waktu lalu.
Namun angka-angka itu tidak sepenuhnya menggambarkan suasana di lapangan.
Di posko pengungsian yang tersebar di berbagai titik, tikar-tikar digelar berdempetan. Anak-anak tidur di pangkuan ibu mereka, sementara para relawan membagikan makanan hangat dari dapur umum. Hingga 8 Desember 2025, sekitar 904.100 warga Aceh masih mengungsi, menurut data yang dihimpun dari laporan statistik kebencanaan nasional. Sebagian dari mereka kehilangan rumah, sebagian lainnya takut kembali karena lereng bukit di belakang kampung masih retak dan labil.
Di Aceh Timur, jalan yang dulu ramai kini dipenuhi material kayu dan lumpur setinggi lutut. Jembatan penghubung desa hanyut terbawa arus. Di Aceh Tengah, lereng yang longsor meninggalkan bekas cokelat terbuka di antara hutan yang tergerus. Sungai yang biasanya jernih berubah keruh, membawa potongan batang kayu dan puing rumah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa hujan ekstrem dipicu aktivitas siklon tropis di Samudra Hindia yang memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah barat Sumatra. Hujan turun deras berhari-hari tanpa jeda panjang, membuat tanah jenuh air dan tak lagi mampu menahan beban.
Sementara itu, laporan situasi dari ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance (AHA Centre) menyebut bencana ini sebagai salah satu kejadian hidrometeorologi paling mematikan di kawasan sepanjang 2025.
Di pengungsian, tantangan tidak hanya soal tempat tinggal. Air bersih terbatas, risiko penyakit meningkat, dan trauma masih membekas. Beberapa anak terlihat diam lebih lama dari biasanya, memeluk tas kecil yang menjadi satu-satunya barang tersisa dari rumah mereka.
Menjelang akhir Desember, sebagian warga mulai kembali ke rumah untuk membersihkan sisa lumpur. Namun banyak pula yang harus memulai dari nol. Pemerintah daerah memperpanjang masa tanggap darurat hingga 25 Desember 2025, sementara alat berat terus bekerja membuka akses jalan yang tertutup longsor.
Desember di Aceh tahun ini bukan hanya tentang hujan yang deras. Ia menjadi bulan panjang yang dipenuhi duka, angka-angka korban, dan upaya bangkit perlahan dari tanah yang sempat runtuh.
Sumber : ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance (AHA Centre)